INTERAKINDO.COM – Teodor Davidov sempat menghebohkan dunia tenis saat masih kecil sebagai talenta langka yang mampu bertukar pegangan raket dari tangan satu ke tangan lainnya. Alih-alih menggunakan backhand, ia justru menyerang lawan dengan dua sisi forehand. Kini, di usia 15 tahun, ia resmi mencatatkan poin profesional pertamanya.
Davidov, yang saat ini menempati peringkat 300 besar dunia untuk kategori pemain usia 18 tahun ke bawah, baru saja mencapai babak Perempat Final di sebuah turnamen di Naples, Florida. Banyak pakar melihat gaya mainnya sebagai keuntungan besar, dan Davidov sendiri mengakui bahwa ia sudah mulai membedah bakat uniknya sejak usia 12 tahun.
Inovasi Sang Ayah
Lahir di Sofia, Bulgaria, keluarga Davidov pindah ke Denver, Colorado, saat ia masih balita, sebelum akhirnya menetap di pusat tenis Bradenton, Florida.
Gaya main “dua tangan” ini mulai dikembangkan saat ia berusia 8 tahun atas ide ayahnya yang juga menjadi pelatihnya.
“Ayah awalnya ingin meningkatkan koordinasi saya, tapi dia menyadari bahwa forehand tangan kiri saya—padahal aslinya saya tidak kidal—ternyata tidak buruk. Jadi, kami mulai melatihnya lebih serius,” ujar Davidov kepada Babolat.
Meski sering menerima kritik dari orang yang belum pernah melihatnya bertanding langsung, Davidov tetap percaya diri.
“Semua orang yang menonton saya bermain selalu berpesan agar saya terus mempertahankan gaya ini.”
Senjata Ampuh atau Beban Mental?
Pelatih ternama Patrick Mouratoglou memberikan pujian setinggi langit. Ia menganalisis bahwa kemampuan menyervis dengan kedua tangan memungkinkan pemain untuk membuka sudut lapangan yang sangat lebar, memaksa lawan meninggalkan ruang kosong yang luas.
Senada dengan itu, petenis Belanda Robin Haase juga mengakui potensi gaya ini. Sebagai seorang ambidestrus, Haase merasa servis dua tangan bisa menjadi senjata yang mengerikan jika dilatih sejak dini. Namun, Haase juga melihat adanya sisi psikologis yang berisiko.
“Aspek mental adalah tantangannya,” kata Haase. “Semakin banyak kemampuan yang Anda miliki, semakin banyak pilihan yang tersedia. Dan semakin banyak pilihan, Anda akan semakin banyak berpikir. Saat mulai berpikir terlalu banyak, di situlah kesalahan terjadi.”
Mimpi Menjadi yang Terbaik
Ambisi Davidov tidak main-main. Setelah menjuarai nomor ganda di ajang bergengsi Petits As de Tarbes tahun 2024, ia kini mulai melangkah ke level profesional.
“Saya tidak hanya ingin menjadi pemain profesional, saya ingin menjadi petenis terbaik sepanjang masa,” tegasnya.
Dengan poin profesional pertama yang sudah di tangan, dunia kini menanti apakah gaya “dua tangan” ini akan benar-benar merevolusi sejarah tenis modern atau tidak?***



