Rabu, Maret 11, 2026

Bukan Sihir, Teodor Davidov Raih Poin Profesional Pertama dengan Gaya Forehand Ganda yang Unik

Must Read

INTERAKINDO.COM – Teodor Davidov sempat menghebohkan dunia tenis saat masih kecil sebagai talenta langka yang mampu bertukar pegangan raket dari tangan satu ke tangan lainnya. Alih-alih menggunakan backhand, ia justru menyerang lawan dengan dua sisi forehand. Kini, di usia 15 tahun, ia resmi mencatatkan poin profesional pertamanya.

Davidov, yang saat ini menempati peringkat 300 besar dunia untuk kategori pemain usia 18 tahun ke bawah, baru saja mencapai babak Perempat Final di sebuah turnamen di Naples, Florida. Banyak pakar melihat gaya mainnya sebagai keuntungan besar, dan Davidov sendiri mengakui bahwa ia sudah mulai membedah bakat uniknya sejak usia 12 tahun.

BACA JUGA :   Misi Berat Laporta: Haaland Jadi Suksesor Lewandowski di Madrid, Tapi Ada Syaratnya

Inovasi Sang Ayah

Lahir di Sofia, Bulgaria, keluarga Davidov pindah ke Denver, Colorado, saat ia masih balita, sebelum akhirnya menetap di pusat tenis Bradenton, Florida.

Gaya main “dua tangan” ini mulai dikembangkan saat ia berusia 8 tahun atas ide ayahnya yang juga menjadi pelatihnya.

“Ayah awalnya ingin meningkatkan koordinasi saya, tapi dia menyadari bahwa forehand tangan kiri saya—padahal aslinya saya tidak kidal—ternyata tidak buruk. Jadi, kami mulai melatihnya lebih serius,” ujar Davidov kepada Babolat.

Meski sering menerima kritik dari orang yang belum pernah melihatnya bertanding langsung, Davidov tetap percaya diri.

BACA JUGA :   Dewa United Jadi Satu-satunya Tim Belum Terkalahkan di IBL 2022

“Semua orang yang menonton saya bermain selalu berpesan agar saya terus mempertahankan gaya ini.”

Senjata Ampuh atau Beban Mental?

Pelatih ternama Patrick Mouratoglou memberikan pujian setinggi langit. Ia menganalisis bahwa kemampuan menyervis dengan kedua tangan memungkinkan pemain untuk membuka sudut lapangan yang sangat lebar, memaksa lawan meninggalkan ruang kosong yang luas.

Senada dengan itu, petenis Belanda Robin Haase juga mengakui potensi gaya ini. Sebagai seorang ambidestrus, Haase merasa servis dua tangan bisa menjadi senjata yang mengerikan jika dilatih sejak dini. Namun, Haase juga melihat adanya sisi psikologis yang berisiko.

“Aspek mental adalah tantangannya,” kata Haase. “Semakin banyak kemampuan yang Anda miliki, semakin banyak pilihan yang tersedia. Dan semakin banyak pilihan, Anda akan semakin banyak berpikir. Saat mulai berpikir terlalu banyak, di situlah kesalahan terjadi.”

BACA JUGA :   Dipecat Tottenham, Thomas Frank Jadi Pelatih Ketujuh Di Liga Primer Yang Tersingkir

Mimpi Menjadi yang Terbaik

Ambisi Davidov tidak main-main. Setelah menjuarai nomor ganda di ajang bergengsi Petits As de Tarbes tahun 2024, ia kini mulai melangkah ke level profesional.

“Saya tidak hanya ingin menjadi pemain profesional, saya ingin menjadi petenis terbaik sepanjang masa,” tegasnya.

Dengan poin profesional pertama yang sudah di tangan, dunia kini menanti apakah gaya “dua tangan” ini akan benar-benar merevolusi sejarah tenis modern atau tidak?***

- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img
Latest News

Trump Beri Lampu Hijau: FIFA Pastikan Timnas Iran Tetap Bisa Berlaga di Piala Dunia 2026 Meski Sedang Perang

INTERAKINDO.COM - Presiden FIFA, Gianni Infantino memastikan bahwa Presiden AS, Donald Trump, mengizinkan Iran tampil di Piala Dunia 2026...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img