INTERAKINDO.COM – Sepak terjang seorang wanita berinisial MIK di dunia investasi bodong akhirnya terbongkar ke publik. Bermodus manipulasi psikologis lewat cerita sedih di media sosial, perempuan yang pernah viral di platform Threads ini diduga sukses menipu puluhan korban dalam grup Telegram dengan total kerugian kolektif sedikitnya mencapai Rp6.000.000.000,-.
Dalam melancarkan aksinya, MIK kerap berganti identitas penampilan dan membangun citra sebagai mantan diaspora sukses di Paris. Ia mengaku sebagai pemilik tunggal restoran “Borneo à Paris” yang hidup glamor di apartemen berlatar Menara Eiffel—mirip visualisasi serial populer Emily in Paris.
Guna menjaring korban, MIK sengaja menjual drama kehidupan yang memikat simpati publik. Ia mengaku pernah memegang uang Rp5-10 Miliar per bulan namun mendadak jatuh miskin, terlilit utang Rp78 Miliar akibat ditipu mafia batu bara, hingga mengarang cerita bahwa suaminya masuk Rumah Sakit Jiwa (RSJ) karena gila.
Narasi berhasil bangkit dan mencicil utang miliaran dengan bekerja sebagai admin online shop bergaji UMR inilah yang membuat para korban penasaran dan masuk perangkap.
Modus utama yang ditawarkan MIK adalah investasi bisnis impor tas mewah replika (fake bag) dari China dengan sistem bagi hasil 50:50. Pada tiga bulan pertama, MIK sengaja melancarkan pembayaran keuntungan untuk membuai psikologis korban.
Namun, begitu korban menambah modal dalam jumlah besar, pembayaran langsung macet dengan alasan barang tertahan di Bea Cukai. Faktanya, uang tersebut dilarikan dan diputar dengan skema Ponzi.
Totalitas penipuan MIK tergolong rapi. Ia sengaja menyewa unit apartemen selama 6 bulan dan menyulapnya menjadi “studio tas” lengkap dengan lemari displai tas bermerek demi mengelabui investor, sebelum akhirnya membawa kabur uang tersebut.
Berdasarkan investigasi mandiri para korban, aliran dana penipuan ini mengalir deras ke rekening sindikat keluarganya, mulai dari suami, adik-adik, hingga kedua orang tuanya.
Tak hanya bisnis tas, MIK juga sempat menebar jaring lewat modus travel agency fiktif “Tour Malaysia Murah”, di mana para peserta tur secara tidak sadar dijadikan kurir penyelundupan elektronik karena diwajibkan mendaftarkan IMEI iPhone menggunakan paspor pribadi mereka.
Rekam jejak hitam MIK ternyata sudah terendus sejak berada di luar negeri. Mantan partner bisnisnya di Paris mengungkapkan bahwa MIK sudah lama masuk daftar hitam (blacklist) di Eropa. Ia bahkan telah dideportasi dari Prancis akibat kasus overstay dan pemalsuan data paspor setelah kedapatan menipu sejumlah komunitas diaspora di Belanda dan Prancis.
Saat ini, nomor telepon dan keberadaan MIK dilaporkan telah hilang misterius sejak pertengahan November. Kasus ini pun semakin rumit karena suami MIK, yakni RR, pada saat yang sama juga resmi dilaporkan ke kepolisian atas kasus investasi bodong rumah lelang senilai Rp1,4 Miliar yang menyasar sahabat lamanya sendiri.***



