Kamis, Maret 5, 2026

Kedaulatan Ekonomi di Atas Segalanya: Azka Aufary Ramli Kritik Liberalisme Tanpa Penguatan Institusi

Must Read

INTERAKINDO.COM — Di tengah badai ketidakpastian global yang kian sulit diprediksi, tokoh pengusaha sekaligus aktivis ekonomi, Azka Aufary Ramli, melontarkan gagasan strategis bagi masa depan negeri. Ia menekankan bahwa pendekatan state-guided capitalism atau kapitalisme terpandu negara bukan sekadar pilihan, melainkan arah kebijakan yang paling realistis demi menjaga stabilitas dan ketahanan ekonomi nasional.

Dalam pernyataan resminya, Azka membedah realitas dunia saat ini yang menurutnya sudah bergeser. Kita tidak lagi berada di era pasar bebas tanpa batas. Sebaliknya, dunia telah memasuki fase kompetisi antarnegara yang sangat intens, yang ditandai dengan menguatnya proteksionisme, perebutan dominasi teknologi, hingga rapuhnya rantai pasok global.

“Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan mekanisme pasar semata. Kita membutuhkan negara yang hadir sebagai pengarah strategis. Tujuannya bukan untuk mematikan peran pasar, melainkan memastikan pertumbuhan ekonomi kita berjalan stabil, berdaulat, dan tetap berpihak pada kepentingan nasional,” papar Azka.

Negara Sebagai Dirigen Pembangunan

Azka mengibaratkan negara sebagai seorang orkestrator atau dirigen pembangunan. Dalam konsep state-guided capitalism, negara memiliki peran sentral untuk menetapkan arah jangka panjang, membentengi sektor-sektor vital, sekaligus merajut ekosistem usaha yang kondusif bagi sektor swasta hingga pelaku UMKM.

BACA JUGA :   Di Hadapan Denny Sumargo, Younger dan Said Curhat Jadi Korban Dugaan Penipuan Trading Kripto oleh Timothy Ronald

Ia merujuk pada kesuksesan berbagai negara di Asia Timur yang telah membuktikan keampuhan model ini. Mereka mampu melakukan transformasi ekonomi secara kilat namun tetap dalam koridor yang stabil.

“Tidak ada negara besar yang lahir dari pasar bebas murni tanpa arah yang jelas. Negara-negara yang sukses justru mereka yang memiliki visi strategis serta keberanian untuk melakukan intervensi pada sektor-sektor kunci,” jelas Azka secara mendalam.

Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa Indonesia memiliki karakteristik ekonomi yang sangat unik—mulai dari kekayaan sumber daya alam yang melimpah, populasi yang besar, hingga tantangan kesenjangan wilayah. Karakteristik inilah yang menuntut adanya pendekatan yang mampu menyeimbangkan efisiensi pasar dengan perlindungan terhadap kepentingan nasional.

Belajar dari Keberhasilan Hilirisasi

Azka menunjuk kebijakan hilirisasi sumber daya alam dan masifnya pembangunan infrastruktur sebagai bukti autentik keberhasilan peran negara. Menurut pandangannya, langkah tegas pemerintah ini terbukti meningkatkan nilai tambah domestik, membuka lapangan kerja baru, dan memperkokoh posisi Indonesia dalam peta rantai pasok dunia.

BACA JUGA :   Kadin Siapkan 100 Dapur MBG Sukseskan Program MBG

“Hilirisasi menjadi bukti nyata bahwa intervensi negara yang tepat sasaran dapat mengubah struktur ekonomi kita; dari yang semula berbasis komoditas mentah menjadi industri dengan nilai tambah tinggi,” tegasnya.

Stabilitas: Fondasi yang Tak Bisa Ditawar

Ada sebuah peringatan penting yang disampaikan Azka: pertumbuhan ekonomi tanpa stabilitas hanya akan menciptakan kerentanan. Ia mengingatkan bahwa sejarah telah memberi pelajaran berharga bahwa liberalisasi yang dilakukan tanpa penguatan institusi sering kali berujung pada guncangan sistemik yang menyakitkan.

Melihat gejolak geopolitik dan disrupsi teknologi saat ini, negara wajib memiliki instrumen kuat untuk memproteksi kepentingan domestik.

“Tujuan utama pembangunan ekonomi bukan hanya soal angka pertumbuhan yang tinggi, melainkan stabilitas jangka panjang dan kesejahteraan rakyat. Negara harus menjamin bahwa pasar bekerja untuk kepentingan bangsa, bukan justru sebaliknya,” tambahnya.

Arsitek Masa Depan Menuju Indonesia Emas 2045

BACA JUGA :   Perjanjian ART Indonesia-AS Hasilkan Tarif Impor 0%, Siap Ledakkan Ekspor Tekstil 10 Kali Lipat

Optimisme Azka tetap besar. Ia yakin Indonesia punya modal kuat untuk menjadi raksasa ekonomi dunia berkat bonus demografi, pasar domestik yang luas, serta posisi geopolitik yang strategis. Namun, potensi emas itu hanya bisa dicapai jika ada konsistensi kebijakan dan kepemimpinan ekonomi yang tangguh.

“Indonesia tidak kekurangan sumber daya atau talenta. Yang kita butuhkan saat ini adalah orkestrasi nasional yang jelas. State-guided capitalism menawarkan keseimbangan yang tepat antara pertumbuhan, stabilitas, dan kedaulatan ekonomi,” ungkap sosok yang dikenal aktif menggerakkan berbagai inisiatif industri dan ekosistem bisnis ini.

Sebagai penutup, Azka menegaskan kembali bahwa posisi negara tidak boleh pasif di tengah persaingan global yang kian keras dan tanpa ampun.

“Jika kita ingin keluar dari middle-income trap dan mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, negara harus berani tampil sebagai arsitek masa depan ekonomi bangsa—bukan sekadar menjadi penonton,” pungkas tokoh yang giat mendorong kolaborasi lintas sektor demi memperkuat daya saing nasional tersebut.***

- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img
Latest News

Drama Kursi Pelatih Maroko: Tawaran Resmi Ditolak Xavi, Alasannya Bikin Geleng-Geleng Kepala

INTERAKINDO.COM - Hampir dua tahun Xavi Hernandez digantikan Hansi Flick sebagai pelatih kepala Barcelona. Selama kurun waktu tersebut, berbagai...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img