INTERAKINDO.COM – Rico Verhoeven hampir saja mengguncang dunia pada Sabtu (23/5) di Piramida Giza, Mesir. Dalam pertarungan di mana hampir tidak ada seorang pun yang memberinya peluang untuk menang, sang ikon kickboxing itu nyaris mengalahkan juara tinju kelas berat linier, Oleksandr Usyk.
Secara resmi, Usyk memenangkan pertandingan lewat TKO di ronde 11. Namun, muncul gelombang kontroversi besar seputar keputusan wasit Mark Lyson yang menghentikan pertarungan di ronde 11 tersebut. Di penghujung itu, Usyk memang sempat menjatuhkan Verhoeven lewat pukulan uppercut yang brutal.
Verhoeven berhasil bangkit, dan secara aneh malah diberikan waktu tambahan untuk memasang kembali pelindung mulutnya. Beberapa detik kemudian, tepat saat bel tanda ronde berakhir berbunyi, Lyson langsung melompat untuk menghentikan pertarungan saat Usyk tengah memberondongkan pukulan.
Komentator pertandingan, Todd Grisham, sampai berteriak, “Apa yang kau lakukan?” Dan reaksi itu sangat beralasan. Verhoeven memang dalam posisi terdesak, tetapi sisa waktu di ronde tersebut sudah tidak cukup bagi Usyk untuk memberikan kerusakan lebih lanjut.
Fakta Kunci Pertandingan
- Hasil: Oleksandr Usyk mengalahkan Rico Verhoeven via TKO Ronde 11 (Menit 2:59)
- Perebutan Gelar: Juara Kelas Berat WBC (Usyk mempertahankan gelar)
- Lokasi: Piramida Giza, Mesir — Acara tinju pertama yang pernah digelar di situs bersejarah ini
- Rekor: Usyk melesat ke 25-0 (16 KO); Verhoeven merosot ke 1-1 (1 KO) sebagai petinju profesional
- Skor Juri Saat Dihentikan: 95-95, 95-95, dan 96-94 untuk keunggulan Verhoeven
- Wasit: Mark Lyson
Apa yang Sebenarnya Terjadi di Akhir Laga Usyk vs Verhoeven?
Wasit Mark Lyson melakukan dua kesalahan fatal. Pertama, Verhoeven seharusnya tidak diberikan waktu tambahan ekstra hanya untuk memasang kembali pelindung mulutnya. Kedua, sangat tidak masuk akal menghentikan duel saat laga menyisakan kurang dari satu detik di ronde ke-11.
Anda jelas tidak boleh menghentikan duel perebutan juara yang berlangsung seketat itu dalam situasi demikian.
Jika mau objektif, Lyson seharusnya membiarkan ronde ke-11 berakhir, lalu mengevaluasi kondisi Verhoeven di masa jeda menuju ronde 12. Masalah ini berakar dari Lyson yang tampaknya tidak tahu berapa banyak sisa waktu yang ada di papan skor. Jika dia tahu, mungkin keputusannya akan berbeda.
Momen itu sendiri berlangsung brutal namun singkat. Uppercut kanan Usyk menjatuhkan Verhoeven di 30 detik terakhir. Setelah drama penundaan pelindung mulut, sang juara bertahan langsung menghujani Verhoeven dengan rentetan pukulan sebelum akhirnya Lyson mengintervensi pada menit 2:59—tampaknya tepat setelah bel berbunyi.
Verhoeven tetap menunjukkan sikap hormat meski tidak sepakat dengan keputusan tersebut. Ia mengatakan kepada DAZN, “Saya pikir itu adalah penghentian yang terlalu dini.”
Statistik duel pun mempertegas betapa sengitnya duel ini, di mana Usyk mendaratkan 112 dari 499 pukulan, sementara Verhoeven berhasil memasukkan 113 dari 508 pukulan.
Bagaimana Isi Kartu Skor Juri?
Dua juri menilai pertarungan imbang 95-95 hingga ronde ke-10, sementara satu juri lainnya memenangkan Verhoeven dengan skor 96-94. Apa artinya? Secara matematis, Usyk otomatis memenangkan ronde ke-11 karena berhasil menjatuhkan lawan.
Jika Lyson tidak menghentikan laga, maka hingga ronde 11, Usyk akan unggul 105-103 di dua kartu juri, dan imbang 104 di kartu juri ketiga. Pertarungan tentu akan ditentukan habis-habisan di ronde ke-12, di mana Usyk kemungkinan besar di atas angin karena baru saja melukai Verhoeven dengan parah di ronde sebelumnya.
Perhitungan matematika itulah yang menjadi inti masalah ketika orang-orang mulai meneriakkan kata “perampokan”. Ini bukan kasus di mana seorang petinju yang sudah unggul jauh lalu kemenangannya dihapus begitu saja oleh keputusan wasit. Ini adalah duel yang murni ketat, di mana berdasarkan angka, Usyk baru saja mulai mengambil alih kendali tepat di saat laga dihentikan.
Apakah Rico Verhoeven Dirampok?
Dirampok dari kemenangan? Tidak. Secara teknis ia sedang kalah poin saat penghentian terjadi. Bahkan jika keinginannya dikabulkan untuk lanjut ke ronde 12, ia berada dalam posisi tertinggal di kartu skor dan kehilangan momentum.
Namun, ia dirampok dari kesempatan sah untuk membalikkan keadaan di ronde ke-12. Besar kemungkinan Usyk akan tampil menggila di ronde terakhir untuk mencetak KO atau menang angka mutlak lewat keunggulan 10-9.
Meski begitu, Verhoeven setidaknya punya peluang untuk kalah lewat split decision, atau bahkan membuat kejutan dengan mencetak knockdown atau KO balasan.
Perbedaan tipis inilah yang membuat para analis seperti Ariel Helwani menyebut akhir pertandingan ini sebagai sebuah tragedi memalukan. Ia menyamakan momen ini dengan perjuangan mengejutkan Francis Ngannou saat melawan Tyson Fury, di mana seorang petarung luar berhasil melampaui semua ekspektasi.
Kemarahan publik adalah soal hilangnya kesempatan berharga, bukan soal keputusan poin yang dicuri.
Bagi seorang pria yang baru menjalani duel tinju profesional keduanya melawan juara dunia linier, tidak diberikan hak bertarung di tiga menit terakhir adalah ketidakadilan yang nyata.
Akankah Terjadi Rematch Usyk vs Verhoeven?
Duel ulang tampaknya akan terjadi di masa depan. Namun, Agit Kabayel yang sudah lama mengantre untuk mendapatkan kesempatan, terlihat langsung berada di lokasi untuk melakukan face-off dengan Usyk setelah laga usai.
Tampaknya Kabayel yang akan menjadi lawan berikutnya. Kita akan melihat apakah Verhoeven mau mengambil satu laga tinju lagi melawan petinju penantang utama terlebih dahulu. Jika ia mengambilnya dan menang, maka desakan untuk rematch melawan Usyk akan semakin sah.
Peta politik tinju juga mendukung skenario ini. WBC telah memerintahkan Agit Kabayel (27-0) sebagai penantang wajib bagi Usyk. Kepala penyelenggara, Turki Alalshikh, juga secara terbuka menyatakan bahwa jalurnya adalah Kabayel terlebih dahulu, baru kemudian kemungkinan rematch dengan Verhoeven. Usyk sendiri mengaku terbuka untuk langsung tanding ulang, jadi lampu hijau sudah menyala dari sisinya.
Yang pasti, laga rematch baru akan benar-benar menarik jika Verhoeven membuktikan bahwa performa hebatnya pada Sabtu bukan sekadar kebetulan, yaitu dengan cara mengalahkan petinju penantang tulen terlebih dahulu. Jika ia mampu melakukannya, panggung tontonan crossover ini akan berubah menjadi rivalitas sejati yang sangat layak digelar untuk kedua kalinya.***



