INTERAKINDO.COM – Jika Anda bertanya kepada sebagian besar penggemar tinju mengenai siapa yang seharusnya menjadi lawan terakhir Oleksandr Usyk, jawabannya akan keluar dengan cepat: Moses Itauma, atau pemenang dari duel Tyson Fury versus Anthony Joshua.
Namun, jika pertanyaan itu diajukan kepada Usyk sendiri, jawabannya adalah Deontay Wilder.
Jurang pemisah antara apa yang diinginkan para pendukung dan apa yang diincar oleh petinju pound-for-pound terbaik ini telah mengubah laga perpisahannya menjadi sebuah perdebatan sengit—dan rencana panggung Usyk vs Wilder berada tepat di tengah pusaran tersebut.
Usyk ingin menutup kariernya dengan menghadapi Wilder di Amerika Serikat, membingkai pertarungan tersebut sebagai sebuah dansa terakhir. Bagi seorang petinju yang telah mengalahkan setiap lawan yang disodorkan kepadanya, reaksi yang diterima justru sangat tidak bersahabat.
Banyak pihak menilai petinju berusia 39 tahun itu seharusnya menutup karier dengan menghadapi nama yang benar-benar berbahaya, bukannya mantan juara dunia yang kini dianggap sebagai lawan yang jauh lebih mudah.
Rencana Duel Usyk vs Wilder
Usyk (25-0, 16 KO) saat ini sedang bernegosiasi dengan Zuffa Boxing untuk menggelar laga perpisahan melawan Wilder di Amerika. “Mengapa tidak? Jika tim Deontay menginginkannya, saya akan melakukannya. Uang, bisnis… sekarang kami punya dua opsi, tetapi apa yang baik untuk saya, itu yang akan kami ambil,” ujar Usyk kepada The Athletic.
Ia bahkan telah mengosongkan gelar juara dunia kelas beratnya ketimbang mempertahankan sabuk WBC melawan penantang wajib Agit Kabayel. Langkah ini membebaskannya dari kewajiban gelar dan membuka jalan untuk memilih laga perpisahan yang menguntungkan secara finansial berdasarkan keinginannya sendiri.
Alasan Penggemar Menginginkan Lawan Lain
Kekecewaan para penggemar sangat mudah dipahami. Usyk telah mencapai hampir semua hal yang bisa ditawarkan oleh olahraga tinju di dua kelas berbeda, penjelajah dan berat.
Oleh karena itu, para pendukung berharap ia menyasar Itauma atau pemenang duel Tyson Fury melawan Anthony Joshua—sebuah laga perpisahan penentu melawan salah satu nama papan atas di kancah kelas berat.
Sebaliknya, mereka justru disuguhkan mantan juara WBC yang reputasinya telah merosot tajam.
Para kritikus menilai Wilder sebagai pilihan berisiko rendah: nama besar, bayaran melimpah, dan berdasarkan performa terakhirnya, menjadi laga yang relatif aman dengan risiko kekalahan kecil.
Ini adalah arah yang sangat berbeda dari rumor pertarungan Usyk sebelumnya, dan kesan bahwa sang legenda lebih memilih bisnis ketimbang risiko persaingan itulah yang paling melukai hati para fans.
Misteri Pukulan Tangan Kanan Wilder
Wilder memegang gelar juara WBC selama lima tahun dan menjadi salah satu daya tarik terbesar di Amerika Serikat, sebagian besar berkat kekuatan tangan kanannya yang menakutkan.
Namun, aura tersebut telah memudar setelah dua kekalahan dari Fury serta kekalahan tambahan dari Joseph Parker dan Zhang Zhilei.
Hal yang lebih krusial adalah kondisi dari senjata utamanya itu sendiri. Kekuatan pukulan yang membawanya bertahun-tahun di puncak tidak lagi terlihat sama belakangan ini. Wilder, yang kini berusia 40 tahun, juga secara terbuka telah berbicara mengenai masalah pada bahu kanannya. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan nyata tentang seberapa banyak sisa kemampuan terbaik yang masih dimilikinya.
Titik Berat Gelombang Kritik
Inilah inti dari kritik keras tersebut. Pertarungan Usyk melawan Wilder memang menawarkan nilai nama besar dan daya tarik komersial, tetapi sangat minim nilai histori olahraga yang sebenarnya diinginkan fans dari laga perpisahan sang petinju Ukraina.
Ini adalah profil mantan juara tanpa adanya ancaman bahaya dari petinju kelas berat yang muda dan tangguh. Apakah Usyk peduli dengan hal itu—di saat kariernya telah dipenuhi oleh semua pencapaian tertinggi—mungkin menjadi satu-satunya pertanyaan yang akan menentukan di mana ‘dansa terakhirnya’ benar-benar akan berlangsung.***



