Catatan M. Ngara, Wartawan Sepakbola Senior
IBARAT David vs Goliath. Itulah perumpamaan paling tepat untuk pertarungan Jerman vs Curacao di Grup E Piala Dunia 2026, Senin (15/6) pukul 00.00 WIB, di Stadion NRG, Houston, Amerika Serikat. Tapi, benarkah Jerman adalah Goliath?
Jika mengacu pada empat kali menyandang gelar juara dunia: 1954, 1974, 1990, dan 2014, sungguh Jerman memang raksasa sepakbola. Bahkan, meski Brasil berada di atasnya dengan lima kali juara (1958, 1962, 1970, 1994, dan 2002), negeri itu pernah dipermalukan di rumah sendiri pada PD 2014. Jerman memporak-porandakan negeri bola itu di semifinal dengan skor kekalahan terbesar bagi Brasil, 7-1.
Selain itu, masih ada catatan tumpukan prestasi lainnya. Juara Eropa dan melahirkan banyak pemain yang kualifikasinya sangat luar biasa. Artinya, Jerman dan sepakbola seolah seiring dan sejalan, serta bersinar amat terang.
Tapi, di PD 2026, Jerman bukanlah Jerman yang kita bicarakan di atas. FIFA dan banyak pengamat meragukan kemampuannya karena tidak memiliki bintang yang benar-benar cemerlang. Sebut saja, tidak ada lagi nama-nama yang menggetarkan seperti Franz Beckenbauer, Gerd Muller, Jurgen Klinsmann, Rudi Voller, dan banyak nama lainnya.
Benarkah? Jangan buru-buru larut. Jerman tetap tim yang tidak mudah dikalahkan. Persis seperti julukannya, Panser, perlahan tapi tetap mematikan.
Paling tidak di PD 2014 Brasil, Jerman telah membuktikan itu. Mereka datang dan dipandang sebelah mata dengan diperkuat oleh anak-anak muda yang dikombinasikan dengan para pemain senior. Hasilnya luar biasa. Jerman bukan hanya mampu merebut gelar juara untuk keempat kalinya, tapi mereka juga menghancurkan tuan rumah Brasil.
Modal Nihil
Sementara Curacao, negeri kerajaan yang dipimpin Raja Willem-Alexander dan hanya berpenduduk 185 ribu jiwa (2025), catatannya masih sangat nihil di Piala Dunia. Lolosnya tim dari belahan selatan Laut Karibia dan bekas jajahan Belanda itu pun sangat mengejutkan.
Tim asuhan Dick Advocaat (Belanda) itu di putaran kedua babak kualifikasi Concacaf mampu menyingkirkan Jamaika dan Trinidad & Tobago, dua negara yang jauh lebih dikenal dalam dunia sepakbola. Sebagai debutan, Curacao diharapkan akan membuat kejutan.
Dari 26 pemain yang diboyong Advocaat, mayoritas bermain di Eropa, khususnya Belanda. Artinya, para bintang mereka tidak asing lagi bertemu dengan para pemain Jerman. Sebut saja Eloy Room, kiper yang berkiprah di Miami FC, Amerika Serikat. Lalu bek tangguh Armando Obispo yang menjadi andalan PSV Eindhoven. Di tengah ada Leandro Bacuna, Sontje Hansen (Middlesbrough), serta Tahith Chong (Sheffield United).
Dari skuad tersebut, hanya satu pemain yang asli kelahiran Curacao, yaitu Tahith Chong, penyerang asal Sheffield United. Selebihnya adalah pemain naturalisasi atau para pemain yang lahir di Belanda.
Curacao sendiri memang menganut dwi-kewarganegaraan. Artinya, para pemain asal Belanda bisa diberi kewarganegaraan Curacao meski tak melepaskan kewarganegaraan utamanya. Dan Belanda pun menganut paham yang sama, meski birokrasinya lebih ketat.
Lalu, bagaimana pertarungan itu sendiri? Di atas kertas, David kali ini tampaknya akan bernasib tidak serupa dengan kisah sejarah klasik itu. Meski Julian Nagelsmann sang arsitek mengombinasikan pasukan muda dan senior, secara teknis Jerman masih terlalu kuat. Nagelsmann (38) merupakan pelatih termuda di pesta sepakbola dunia kali ini.
Sedangkan Advocaat (78), pelatih paling tua, benar-benar akan diuji kemampuan dan pengalamannya.
Benarkah David-David Curacao bisa menumbangkan Goliath-nya Nagelsmann? Kita tunggu saja hasilnya, langsung di TVRI pada Senin (15/6) pukul 00.00 WIB (Minggu malam pukul 24.00).***



