Sabtu, September 12, 2026

Canting di Tangan, Harapan di Hati: Perjuangan Ira Menghidupi Keluarga Lewat Batik

Must Read

MUARA ENIM, INTERAKINDO – Di balik lembutnya kain batik yang penuh warna dan motif, tersimpan cerita tentang perjuangan panjang perempuan-perempuan di Desa Lubuk Raman, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan.

Setiap goresan canting di atas kain bukan sekadar membentuk motif. Di sana ada ketekunan, harapan, sekaligus upaya untuk membantu menopang kehidupan keluarga.

Salah satunya adalah Ira (42). Pagi itu, matahari belum lama muncul di langit Muara Enim ketika Ira sudah duduk di atas dingklik sederhana di Rumah Kreatif Boek Khaman.

Kain putih terhampar di hadapannya. Di tangan kanan, canting berisi malam. Sementara di dekatnya, tungku terus menjaga malam agar tetap cair dan siap digunakan.

Perlahan, tangan Ira bergerak mengikuti pola di atas kain. Garis demi garis ditorehkan dengan hati-hati. Pekerjaan itu membutuhkan waktu berjam-jam dan menuntut ketelitian tinggi.

Sudah sekitar tiga tahun Ira menekuni pekerjaan sebagai pembatik di Rumah Kreatif Boek Khaman.

Pada hari biasa, ia membatik dari siang hingga sore setelah menyelesaikan pekerjaan rumah. Namun ketika pesanan sedang meningkat, Ira bersama 11 perempuan pembatik lainnya dapat bekerja sejak pagi hingga matahari terbenam.

Bagi Ira, pekerjaan tersebut memiliki arti lebih dari sekadar menghasilkan selembar kain batik.

Sebelum mengenal dunia membatik, kondisi ekonomi keluarganya tidak selalu mudah. Pascapandemi, keluarganya banyak bergantung pada penghasilan sang suami, Sandra Sugianto (52), yang bekerja sebagai buruh karet.

Penghasilan dari mengurus kebun karet milik orang lain tidak menentu. Dalam sebulan, keluarga Ira biasanya hanya memperoleh sekitar Rp1 juta hingga Rp2 juta.

BACA JUGA :   Pramuka Prabumulih Gelar KMD IX, Wujudkan Pembina Mengabdi Tanpa Batas

Untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga dan membiayai dua anaknya, Ira mencoba berjualan kue. Namun, penghasilan dari usaha tersebut belum mampu memberikan perubahan berarti.

Kesempatan kemudian datang sekitar 2021. Ira mendapat tawaran dari Ketua Kelompok Batik Boek Khaman, Etika Oktasari, untuk membantu proses produksi batik.

Awalnya, Ira harus belajar dari dasar. Ia perlahan mengenal canting, malam, pola, hingga berbagai tahapan pembuatan batik.

Dari proses belajar itulah, keterampilan baru tumbuh. Ira kemudian tidak hanya menjadi pembatik, tetapi ikut mendorong perempuan lain di Lubuk Raman untuk belajar dan berkarya.

Semangat itu bahkan ia tularkan kepada putrinya, Syafira Dese Novianti (22).

Bagi Syafira, keterlibatan dalam membatik memberikan pengalaman sekaligus membantu membuka jalan hingga dirinya dapat menyelesaikan pendidikan dan menyandang gelar sarjana.

Perjalanan Ira dan perempuan-perempuan pembatik di Lubuk Raman kemudian mendapat perhatian dari Pertamina EP (PEP) Limau Field.

Sejak 2023, perusahaan yang merupakan bagian dari Pertamina Subholding Upstream Regional 1 Zona 4 tersebut menjalankan program Community Involvement and Development (CID) melalui Rumah Kreatif Boek Khaman.

Pendampingan diberikan secara bertahap, bukan hanya untuk meningkatkan kemampuan produksi, tetapi juga memperkuat pengelolaan kelompok.

Para anggota mendapatkan pelatihan tata kelola keuangan dan administrasi, strategi penjualan, pembuatan batik eco-print, pengelolaan instalasi pengolahan air limbah (IPAL), hingga perbaikan sarana dan prasarana.

Aspek branding, pengemasan produk dan perluasan akses pasar juga turut diperkuat.

Dari pendampingan tersebut, Rumah Kreatif Boek Khaman berkembang menjadi ruang ekonomi kreatif yang tidak hanya menghasilkan batik.

Kini terdapat enam UMKM yang bergabung di dalam Rumah Kreatif Boek Khaman. Produk yang dihasilkan pun semakin beragam, mulai dari olahan pangan hingga buah tangan.

BACA JUGA :   IKA-MUBA Matangkan Pengukuhan Kepengurusan Periode 2026–2030, Griya Agung Jadi Opsi Lokasi

Untuk produksi batik, Rumah Kreatif Boek Khaman saat ini mampu menghasilkan sekitar 200 lembar batik setiap bulan.

Omzet penjualan berkisar Rp20 juta hingga Rp30 juta per bulan.

Dampaknya juga dirasakan langsung oleh para pembatik.

Ira mengatakan, setiap pembatik kini dapat memperoleh penghasilan sekitar Rp2 juta hingga Rp3 juta per bulan. Ketika pesanan meningkat, penghasilan mereka bahkan dapat mencapai sekitar Rp5 juta per bulan.

Bagi perempuan-perempuan tersebut, peningkatan pendapatan bukan hanya soal angka. Ada kebutuhan rumah tangga yang dapat terbantu, ada pendidikan anak yang dapat diperjuangkan, dan ada rasa percaya diri karena mampu menghasilkan pendapatan dari keterampilan sendiri.

Karena itu, keberadaan Rumah Kreatif Boek Khaman menjadi lebih dari sekadar tempat produksi batik. Ia menjadi ruang bagi perempuan untuk tumbuh, belajar dan membangun kemandirian ekonomi bersama-sama.

Pertamina EP Limau Field juga memastikan proses pendampingan tidak berhenti pada pemberian bantuan.

Program CID Rumah Kreatif Boek Khaman direncanakan berjalan hingga 2027. Strategi pendampingan telah disusun untuk mempersiapkan kelompok agar mampu berdiri secara mandiri ketika perusahaan memasuki tahap exit program.

Manager CID PHR Iwan Ridwan Faizal mengatakan, dukungan terhadap Rumah Kreatif Boek Khaman diharapkan dapat menjadi contoh bahwa pemberdayaan masyarakat dapat dimulai dari potensi sederhana yang dimiliki warga.

“Melalui dukungan terhadap Rumah Kreatif Boek Khaman, Pertamina EP Limau Field ingin menyampaikan pesan bahwa semangat perjuangan sekelompok perempuan mampu menggerakkan perekonomian berkelanjutan di sebuah wilayah. Kami ingin memastikan semangat mereka tak padam dan justru menjadi inspirasi untuk kelompok-kelompok masyarakat lainnya di sekitar wilayah operasi kami,” ujarnya.

BACA JUGA :   AHKI Resmi Jadi Mitra Kemenkes Setelah Berjuang Lebih dari Setahun

Perjuangan tersebut pun mendapat apresiasi.

Rumah Kreatif Boek Khaman meraih penghargaan Gold kategori Economic Empowerment dalam ajang Indonesia Social Responsibility Award (ISRA) 2026.

Kategori tersebut diberikan kepada instansi yang memiliki inisiatif memperkuat ketahanan ekonomi dan mata pencaharian masyarakat melalui program pengembangan yang berkelanjutan serta inklusif.

Program Rumah Kreatif Boek Khaman juga meraih penghargaan Best Program Kategori Ekonomi dalam ajang Community Involvement & Development Upstream Award (CID UA) 2026, sebuah ajang apresiasi terhadap program pengembangan masyarakat di lingkungan Pertamina Subholding Upstream.

Namun, bagi Ira dan perempuan-perempuan pembatik lainnya, penghargaan terbesar bukan hanya berupa piala.

Penghargaan itu adalah ketika hasil karya mereka mampu terjual. Ketika pendapatan dari membatik dapat membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Ketika anak-anak mereka memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan lebih tinggi.

Dan ketika sebuah keterampilan yang dulu dipelajari perlahan, kini mampu menjadi sumber penghidupan.

Di atas dingklik sederhana itu, Ira masih terus menorehkan malam. Tangannya bergerak perlahan, membentuk pola demi pola di atas kain putih.

Kain itu mungkin akan menjadi pakaian, buah tangan, atau karya seni yang dibawa pulang oleh seseorang.

Tetapi di balik setiap lembarnya, ada cerita tentang perempuan-perempuan Lubuk Raman yang memilih untuk tidak menyerah.

Mereka membatik bukan hanya untuk menghasilkan kain.

Mereka sedang menenun harapan, menghidupkan ekonomi keluarga, dan menulis masa depan dengan tangan mereka sendiri. (ril) 

- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img
Latest News

BGN Perbarui Sasaran Penerima MBG, 1.653 Satuan Pendidikan Dikeluarkan

INTERAKINDO.COM - Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan pemutakhiran data penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai bagian dari...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img