ACEH TAMIANG, INTERAKINDO – Perjuangan Chaidir Saleh (62) membuktikan bahwa kegagalan bukanlah akhir dari sebuah usaha. Petani asal Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, ini kini dikenal sebagai mentor budidaya melon setelah berhasil menemukan formula menghasilkan Melon Golden Alisha yang manis dan bernilai jual tinggi.
Perjalanan Chaidir tidak mudah. Ia mengaku sempat mengalami empat kali kegagalan saat merintis budidaya melon. Bahkan, panen perdananya pada 2020 menghasilkan buah yang hambar sehingga terpaksa dijual di bawah harga pasar.
Tak menyerah, Chaidir terus belajar secara otodidak hingga menemukan kunci keberhasilan, mulai dari pengaturan usia panen menjadi 60–70 hari hingga teknik pemupukan dan perawatan tanaman yang tepat. Berkat ketekunannya, permintaan melon hasil kebunnya terus meningkat, bahkan datang dari swalayan dan pusat perbelanjaan.
Cobaan kembali datang ketika Chaidir terserang stroke ringan pada Desember 2024 yang membuat aktivitas bertaninya sempat terhenti. Melalui Program Smart Agriculture Melonesia, Pertamina EP Field Rantau kemudian mendampinginya agar pengalaman dan ilmunya tetap bermanfaat bagi masyarakat.
Kini, Chaidir dipercaya menjadi mentor Kelompok Tani Melon Mutiara sekaligus pengajar Sekolah Lapang Pertamina EP Field Rantau. Dalam 12 kali pertemuan, ia membagikan teknik menghasilkan melon bercita rasa manis serta inovasi pengelolaan media tanam polybag yang dapat digunakan hingga 22 kali masa tanam.
Inovasi tersebut mampu menekan biaya budidaya secara signifikan. Jika biaya media tanam mencapai sekitar Rp8.000 per polybag, penggunaan berulang membuat biaya per siklus hanya sekitar Rp400–500, jauh lebih hemat dibandingkan metode konvensional.
Manager Community Involvement & Development (CID) Pertamina Hulu Rokan (PHR) Regional 1, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan Sekolah Lapang merupakan bagian dari Program Smart Agriculture Melonesia yang bertujuan mendorong regenerasi petani sekaligus memperkuat sektor pertanian modern di Aceh Tamiang.
Menurutnya, pengalaman panjang Chaidir menjadi modal berharga untuk ditransformasikan kepada generasi muda agar pertanian semakin menarik dan mampu menjadi sumber penghidupan yang menjanjikan.
“Program ini bukan sekadar CSR, tetapi upaya nyata meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui pemberdayaan ekonomi. Kami ingin Melon Golden menjadi ikon baru kebanggaan Aceh Tamiang,” ujar Iwan.
Melalui program tersebut, Pertamina EP Field Rantau berharap lahir semakin banyak petani muda yang mampu mengembangkan budidaya melon secara efisien, produktif, dan berkelanjutan sehingga memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat setempat. (ril)



