INTERAKINDO.COM – Awal tahun 2026 langsung dibuka dengan kegaduhan politik internasional. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bahwa militer AS telah menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dan istrinya, Cilia Flores, pada Sabtu (3/1/2026).
Klaim itu disampaikan Trump melalui akun media sosialnya Truth Social, bersamaan dengan perintah serangan militer berskala besar Amerika ke Caracas, ibu kota Venezuela.
“Operasi ini dilakukan bekerja sama dengan penegak hukum AS,” tulis Trump.
Namun, di tengah narasi resmi pemberantasan kejahatan, pernyataan Trump soal minyak justru lebih menyita perhatian. Ia secara terbuka mengakui bahwa langkah Amerika ke Venezuela akan membuka akses baru terhadap cadangan minyak raksasa milik negara tersebut.
Menariknya, bersamaan dengan konflik terbaru ini, publik dunia maya kembali memutar wawancara lama Saddam Hussein dan pidato ikonik Hugo Chavez di PBB tahun 2006.
Dalam pernyataannya, Saddam Hussein sejak dulu sudah mencurigai pola intervensi Amerika:
“Kalau Anda ingin mengendalikan dunia, Anda harus mengendalikan minyak. Dan salah satu syarat terpentingnya adalah menghancurkan Irak.”
Menurut Saddam, tuduhan soal WMD hanyalah dalih politik. Tujuan utama agresi AS ke Irak dianggap murni ekonomi dan energi.
Hugo Chávez juga menyampaikan nada serupa, meski dengan gaya yang jauh lebih teatrikal. Di hadapan dunia, ia berkata:
“Yesterday the devil came here… and it smells of sulfur still today.”
Chavez menuduh Amerika menjalankan “demokrasi bom”, melakukan dominasi, eksploitasi, dan penjarahan terhadap negara lain demi kepentingan minyak global.
Pemerintah Venezuela bahkan menyatakan tidak mengetahui keberadaan Maduro maupun Ibu Negara, Cilia Flores.
Beberapa jam setelah ledakan di Caracas, Wakil Presiden Delcy Rodríguez menuntut bukti resmi dari pemerintah AS mengenai keberadaan keduanya.
Di sisi lain, sejumlah media internasional dan netizen ramai mengaitkan bahwa langkah Trump sekarang persis seperti kritik lama: menguasai minyak Venezuela sebagai target utama.
Variety juga melaporkan bahwa kebijakan Trump berpotensi membuat perusahaan minyak besar AS masuk ke Venezuela untuk mengambil alih pengelolaan energi
Jadi pada akhirnya, konflik ini menghadirkan paradoks politik modern. Amerika sebut ini soal hukum dan pemberantasan narkoba.
Trump sendiri terang-terangan mengakui minyak Venezuela adalah bagian penting dari rencana.
Banyak pihak pun bertanya: apakah operasi Amerika ke Venezuela kali ini benar murni penegakan hukum, atau cuma babak baru drama lama perebutan emas hitam?



