Rabu, Mei 6, 2026

Di Balik Kecerdasan AI, Tersembunyi Konsumsi Air dan Emisi Karbon Masif

Must Read
Muhammad Fanber
Muhammad Fanber
Penulis Interakindo.com

INTERAKINDO.COM – Di balik kemampuannya yang kian canggih, kecerdasan buatan (AI) ternyata menyimpan beban lingkungan yang sangat besar. Penelitian terbaru tahun 2025 mengungkap bahwa sistem AI global mengonsumsi sekitar 312 hingga 764 miliar liter air per tahun, terutama untuk mendinginkan server di pusat data yang menopang operasional teknologi ini.

 

Angka tersebut dinilai sangat masif. Para peneliti menyebut total konsumsi air AI setara dengan penggunaan air tahunan seluruh industri air minum kemasan di dunia. Air dibutuhkan untuk sistem pendinginan evaporatif yang menjaga perangkat keras tetap stabil saat menjalankan komputasi intensif, khususnya pada model bahasa besar seperti ChatGPT dan layanan AI generatif lain.

BACA JUGA :   Gemini 3.0: Senjata Baru Google untuk Tantang Model AI Lain

 

Pusat data AI menghasilkan panas dalam jumlah besar akibat proses komputasi berkelanjutan. Tanpa pendinginan konstan, server berisiko mengalami kerusakan serius. Karena itu, penggunaan air dalam skala besar menjadi bagian tak terpisahkan dari operasional AI modern, terutama di wilayah dengan infrastruktur data center berskala raksasa.

 

Tak hanya soal air, jejak karbon AI juga memicu kekhawatiran. Studi yang sama memperkirakan emisi karbon dari sistem AI global mencapai 32,6 hingga 79,7 juta ton CO₂ per tahun. Jumlah tersebut disebut setara dengan total emisi tahunan Kota New York, salah satu kawasan metropolitan dengan konsumsi energi terbesar di dunia.

BACA JUGA :   Bug Hunter Indonesia “Mr Zheev” Raup US$137.799 dari Temuan Celah Keamanan Global

 

Para peneliti menjelaskan, perhitungan emisi ini mencakup konsumsi listrik langsung pusat data serta emisi tidak langsung dari pembangkit listrik yang menyuplai energi ke infrastruktur AI. Sayangnya, aspek ini kerap tidak dilaporkan secara transparan oleh perusahaan teknologi besar.

 

Kondisi tersebut memunculkan paradoks teknologi. Di satu sisi, AI digadang-gadang sebagai alat untuk membantu mitigasi perubahan iklim dan efisiensi energi. Namun di sisi lain, pertumbuhan pesat AI justru berpotensi memperbesar tekanan terhadap sumber daya air dan meningkatkan emisi karbon global.

BACA JUGA :   Nokia Kembali ke Puncak! Hadir dengan Teknologi 6G dan Kekuatan AI Nvidia

 

Sejumlah pakar lingkungan menilai, tanpa upaya serius untuk meningkatkan efisiensi energi, memperluas penggunaan energi terbarukan, serta membuka transparansi konsumsi sumber daya, ekspansi AI dapat memperburuk krisis lingkungan di masa depan. Mereka mendorong perusahaan teknologi dan pembuat kebijakan untuk mulai menempatkan dampak lingkungan AI sebagai isu utama, bukan sekadar efek samping.

- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img
Latest News

Misteri Lantai 4 Benhil Terkuak, Polisi Jebloskan Majikan ‘Sadis’ dan Perekrut ke Sel Usai 2 PRT Nekat Terjun Demi Kabur

INTERAKINDO.COM – Tabir gelap di balik insiden jatuhnya dua Pekerja Rumah Tangga (PRT) dari lantai 4 sebuah indekos di...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img