Rabu, Februari 21, 2024

Ramadhan 1444 H, NU dan Muhammadiyah Puasa Bareng, Lebaran Bisa Beda

Must Read

JAKARTA, interakindo.com — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebut, tanggal awal Ramadhan antara NU dan Muhamadiyah sama, tapi tanggal Idul Fitri bisa berbeda.

Peneliti Astronomi dan Astrofisika BRIN, Thomas Djamaluddin mengatakan, kesamaan dan perbedaan tersebut berdasarkan Kriteria Wujudul Hilal yang digunakan Muhammadiyah serta Imkan Rukyat (visibilitas hilal) yang digunakan NU dan beberapa ormas lain.

“Penentuan awal bulan memerlukan kriteria agar bisa disepakati bersama. Rukyat memerlukan verifikasi kriteria untuk menghindari kemungkinan rukyat keliru. Hisab tidak bisa menentukan masuknya awal bulan tanpa adanya kriteria, sehingga kriteria menjadi dasar pembuatan kalender berbasis hisab yang dapat digunakan dalam prakiraan rukyat,” ujar Thomas dalam laman resmi BRIN, dikutip Kamis (9/3).

BACA JUGA :   Bantu Pemerintah untuk Pengadaan Daging di Idul Adha, Koperasi Produsen Ternak Berkah Salam Jaya Lakukan Langkah Ini

Thomas menambahkan, kriteria hilal yang diadopsi adalah kriteria berdasarkan pada dalil syar’i (hukum agama) tentang awal bulan dan hasil kajian astronomis yang sahih.

BACA JUGA :   Berawal sebagai Penjahit & Pembuat Pola Tas, Mitra Binaan Pertamina Raih Omset Ratusan Juta

Ia melanjutkan, kriteria itu harus mengupayakan titik temu pengamal rukyat dan pengamal hisab, untuk menjadi kesepakatan bersama. Termasuk Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).

Thomas menyebut ada potensi kesamaan awal Ramadhan. “Apabila saat maghrib 22 Maret 2023 di Indonesia posisi bulan sudah memenuhi kriteria baru MABIMS, dengan tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat [3-6,4] (wilayah arsir hijau pada gambar atas) dan sudah memenuhi kriteria Wujudul Hilal [WH] (antara arsir putih pada gambar bawah). Jadi seragam versi [3-6,4] dan [WH] bahwa 1 Ramadhan 1444 pada 23 Maret 2023,” ucapnya.

BACA JUGA :   RSUD Kota Bogor Luncurkan Aplikasi SIMRS untuk Permudah Layanan Warga

 

Di sisi lain, Thomas menyebut adanya potensi perbedaan terkait Idul Fitri 1444. Hal ini disebabkan karena pada saat maghrib 20 April 2023, ada potensi di Indonesia posisi bulan belum memenuhi kriteria baru MABIMS, yaitu tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat [3-6,4] (wilayah arsir hijau pada gambar atas).

Namun sudah memenuhi kriteria wujudul hilal [WH] yang ditunjukkan pada antara arsir putih dan arsip merah pada gambar bawah. Jadi ada potensi perbedaan: Versi [3-6,4] 1 Syawal 1444 pada 22 April 2023, tetapi versi [WH] 1 Syawal 1444 pada 21 April 2023.

BACA JUGA :   Demi Kelancaran Investasi Dunia Usaha, Kadin dan Polri Siapkan MoU Pendampingan

Sebab utama terjadinya perbedaan penentuan awal Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha yang terus berulang karena belum disepakatinya kriteria awal bulan hijriyah. Prasyarat utama untuk terwujudnya unifikasi kalender hijriyah, harus ada otoritas tunggal. Otoritas tunggal akan menentukan kriteria dan batas tanggalnya yang dapat diikuti bersama.

BACA JUGA :   Bogor Kota Gelar Mudik Gratis, Ini Nomor Telepon dan Cara Daftarnya

Sedangkan kondisi saat ini, otoritas tunggal mungkin bisa diwujudkan dulu di tingkat nasional atau regional. Penentuan ini mengacu pada batas wilayah sebagai satu wilayah hukum (wilayatul hukmi) sesuai batas kedaulatan negara. “Kriteria diupayakan untuk disepakati Bersama,” tandasnya.***

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
BACA JUGA :   Menag Gus Yaqut Tegaskan Indonesia Bersama Palestina, PSSI Siap Fasilitasi Timnas Palestina

- Advertisement -spot_img
Latest News

Begini Tekad Riko dan Firza di 3 Pertandingan di Bali

Interakindo.com - Seluruh anggota skuad Macan Kemayoran kini mengarahkan fokus pada dua laga kandang yang akan digelar di Stadion...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img