INTERAKINDO.COM – Elena Rybakina berhasil menumbangkan Aryna Sabalenka dengan skor ketat 6-4, 4-6, 6-4 di final Australian Open 2026, Sabtu (31/1) sekaligus menggagalkan ambisi petenis Belarusia tersebut meraih gelar Australian Open ketiganya dalam empat tahun terakhir.
Kemenangan ini menandai gelar Major kedua bagi Rybakina setelah sukses di Wimbledon 2022.
Bintang tenis asal Kazakhstan tersebut harus menahan gempuran luar biasa dari Sabalenka demi mengamankan gelar Australian Open perdananya. Kemenangan ini sekaligus menghentikan dominasi Sabalenka di Melbourne Park yang mengincar gelar Grand Slam kelima dalam kariernya.
Jalannya Pertandingan yang Mendebarkan
Sabalenka, yang tampil di final tunggal putri Australian Open untuk keempat kalinya secara berturut-turut, sempat menunjukkan mental baja. Setelah kalah di set pertama, ia bangkit menyamakan kedudukan dan bahkan sempat memimpin telak 3-0 di set penentuan pada laga yang digelar di Rod Laver Arena.
Rybakina memulai laga dengan sangat agresif. Di gim pertama, petenis peringkat 5 dunia ini langsung mematahkan servis unggulan teratas tersebut. Satu break tersebut sudah cukup bagi Rybakina untuk mengamankan set pertama.
Memasuki set kedua, Sabalenka sempat menyia-nyiakan beberapa peluang break point. Namun, ia akhirnya berhasil mematahkan servis Rybakina di gim ke-10 untuk memaksakan laga berlanjut ke set penentuan.
Kebangkitan Luar Biasa Rybakina
Momentum tampaknya berpihak pada Sabalenka ketika ia melesat unggul 3-0 di awal set ketiga. Pada titik itu, dunia mengira Sabalenka akan mengulangi kesuksesannya melakukan comeback di final.
Namun, Rybakina secara impresif mengamuk dan merebut lima gim berikutnya secara beruntun untuk berbalik unggul 5-3, sebelum akhirnya menutup pertandingan lewat servisnya sendiri di gim ke-10.
Statistik mencatat Rybakina melepaskan enam ace, 28 winners, dan berhasil mengonversi tiga dari enam peluang break point sepanjang final.
Sejarah Baru Bagi Kazakhstan
Tiga tahun lalu, Rybakina memenangkan set pertama di final Australian Open 2023 namun gagal jadi juara. Hari ini, ia tidak membiarkan Sabalenka melakukan hal yang sama.
Di usia 26 tahun, petenis Kazakhstan ini kini resmi menyandang status sebagai juara Grand Slam berkali-kali (multiple Grand Slam champion).
Di sisi lain, Sabalenka harus puas tetap bertahan dengan empat gelar Grand Slam. Setelah memenangkan gelar Australian Open berturut-turut pada 2023 dan 2024, ia kini harus menelan pil pahit kalah di final Melbourne Park dua tahun berturut-turut.
Kemenangan ini semakin mempertegas dominasi Rybakina atas Sabalenka, setelah sebelumnya ia juga menumbangkan petenis nomor 1 dunia itu untuk meraih gelar WTA Finals pertamanya pada November lalu.
Analisis Kebangkitan: Elena Rybakina (Set 3)
Titik Balik: Dominasi di Game ke-4 Saat tertinggal 0-3, Rybakina berhasil menahan servisnya sendiri dengan sangat dominan. Ini menjadi momentum kunci yang menghentikan aliran poin beruntun Sabalenka. Setelah skor menjadi 1-3, tekanan psikologis berpindah ke tangan Sabalenka.
Strategi “High-Risk, High-Reward” Rybakina mulai bermain lebih agresif untuk memutus ritme Sabalenka yang sedang di atas angin:
- Winners: Dari total 28 winners sepanjang laga, hampir 40% di antaranya diciptakan Rybakina pada periode pengejaran dari skor 0-3 menjadi 5-3.
- Akurasi First Serve: Rybakina mencatatkan persentase first serve masuk yang meningkat tajam di gim-gim akhir, menyulitkan Sabalenka untuk melakukan return yang mematikan.
Eksploitasi Kelemahan Servis Sabalenka Antara gim ke-4 hingga gim ke-9, Sabalenka mulai melakukan kesalahan-kesalahan sendiri (unforced errors). Rybakina memanfaatkan ini dengan:
- Conversion Rate: Rybakina sangat efisien dengan mengonversi 3 dari 6 peluang break point. Ia berhasil melakukan dua kali break beruntun terhadap servis Sabalenka untuk membalikkan keadaan menjadi 4-3 dan 5-3.
Perubahan Momentum Psikologis Tiga tahun lalu di final 2023, Rybakina berada di posisi yang sama tetapi gagal menutup laga. Kali ini, ketenangan mentalnya terlihat:
- Ia merebut 5 gim berturut-turut (dari 0-3 menjadi 5-3).
- Ia menunjukkan daya tahan fisik yang lebih baik di reli panjang, memaksa Sabalenka melakukan spekulasi pukulan yang justru berakhir di luar lapangan atau net.
Penutup Sempurna (Service for the Match) Pada gim ke-10, Rybakina tidak menunjukkan keraguan sedikitpun. Dengan mengandalkan servis kerasnya, ia menutup pertandingan tanpa memberikan kesempatan bagi Sabalenka untuk melakukan break balik.
Kemenangan ini bukan hanya soal teknik, tapi soal ketangguhan mental. Rybakina membuktikan bahwa ia telah belajar dari kegagalannya di tahun 2023 dengan tetap tenang meski tertinggal jauh di set penentuan.***



