INTERAKINDO.COM – Harga emas baru-baru ini mencetak sejarah dengan menembus level tertinggi sepanjang masa. Para investor berbondong-bondong memindahkan uang mereka ke aset safe haven (pelindung nilai) di tengah meningkatnya ketidakpastian politik global yang mencekam.
Pada Senin pekan lalu, logam mulia ini melonjak melewati angka US$5.000 (sekitar Rp79 juta) per ons untuk pertama kalinya dan sempat menyentuh level US$5.500. Harga perak dan platinum juga mencatatkan kenaikan serupa. Meskipun harga sempat turun tajam setelah muncul tanda-tanda stabilitas politik di Amerika Serikat (AS), nilainya tetap jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Efek Ketidakpastian Trump
Kebijakan tarif yang diperkenalkan oleh Presiden AS Donald Trump terhadap negara-negara yang dianggap “tidak menguntungkan” telah mengacaukan perdagangan global. Emma Wall, kepala strategi investasi di Hargreaves Lansdown, menyatakan bahwa kekhawatiran investor terhadap kebijakan perdagangan Trump menjadi bahan bakar utama reli harga emas ini.
Pada Januari lalu, harga emas dan perak meroket, sementara pasar saham justru anjlok. Hal ini dipicu oleh ancaman Trump yang akan memberlakukan tarif baru pada delapan negara Eropa yang menentang rencananya untuk mengambil alih Greenland.
Hamad Hussain, ekonom dari Capital Economics, menyebut bahwa persepsi emas sebagai investasi aman menjadi pusat perhatian di tengah risiko kebijakan fiskal dan luar negeri AS di bawah kendali Trump.
Perang dan Ancaman Global
Ketegangan geopolitik dari perang di Ukraina dan Gaza, hingga penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh AS, telah mendorong harga emas ke level “blockbuster”. Selain itu, ancaman Trump soal Greenland membuat kepercayaan terhadap Dollar AS merosot tajam, memaksa investor beralih ke logam mulia.
“Emas melakukan tugas terbaiknya saat dunia terasa berantakan,” ujar Wall. Ia menambahkan bahwa gesekan baru antara AS, Kanada, dan Cina, serta ketegangan di Timur Tengah, semakin meningkatkan daya tarik emas.
Bank Sentral dan Pembeli Baru
Faktor kunci lainnya adalah aksi borong emas oleh bank-bank sentral dunia. Banyak negara memilih emas sebagai cadangan devisa untuk melepaskan ketergantungan pada kebijakan AS, terutama setelah melihat aset Dollar Rusia disita oleh pemain global.
Selain negara, Cina tetap menjadi pembeli terbesar, baik melalui permintaan perhiasan individu maupun investasi. Menariknya, muncul pembeli besar baru seperti Tether, spesialis mata uang digital, yang dikabarkan telah membeli emas dalam jumlah sangat besar hingga cadangannya dilaporkan melampaui cadangan emas beberapa negara kecil.
Mengapa Harga Sempat Turun?
Harga emas sempat terkoreksi setelah adanya laporan bahwa Presiden Trump kemungkinan akan menominasikan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve (The Fed). Warsh dianggap sebagai pilihan yang lebih “aman” dan stabil dibandingkan kandidat lainnya.
Meskipun terjadi volatilitas, para ahli mengingatkan bahwa emas tetap menjadi diversifikasi terbaik di dunia yang penuh ketidakpastian. Nicholas Frappell dari ABC Refinery mengatakan kepada BBC, “Saat Anda memiliki emas, aset itu tidak terikat pada utang orang lain atau kinerja perusahaan tertentu. Emas adalah pelindung sejati.”
Gejolak harga pada hari Jumat (31/1) menunjukkan bahwa nilai emas bisa turun secepat kenaikannya, namun di mata investor yang mencari keamanan, kilau emas saat ini jauh lebih menarik dari sebelumnya.
Di Indonesia
Sementara itu, pergerakan harga emas Antam sepekan terakhir di bulan Januari 2026 menunjukkan dinamika yang signifikan, mencuri perhatian para investor dan masyarakat umum. Selama periode 26 hingga 31 Januari 2026, harga logam mulia ini mengalami fluktuasi tajam, dari rekor tertinggi hingga koreksi yang cukup dalam.
Dinamika harga ini mencerminkan respons pasar terhadap berbagai faktor ekonomi yang memengaruhi nilai emas, baik di tingkat domestik maupun global. Para pelaku pasar terus memantau pergerakan ini untuk mengambil keputusan investasi yang tepat di tengah ketidakpastian ekonomi.
Pada awal pekan, Senin, 26 Januari 2026, harga emas Antam sepekan langsung mencetak rekor tertinggi, mendekati angka Rp 3 juta per gram. Kenaikan ini menjadi sinyal kuat akan tingginya minat pasar terhadap investasi emas.
Harga yang melonjak ini menunjukkan optimisme investor terhadap logam mulia sebagai aset lindung nilai. Banyak pihak yang memprediksi bahwa tren kenaikan ini akan berlanjut, mengingat kondisi ekonomi global yang masih penuh tantangan.
Laporan ini akan merinci secara lengkap bagaimana harga emas antam sepekan terakhir Januari 2026 bergerak, termasuk momen-momen penting saat mencapai puncak tertinggi dan ketika mengalami penurunan drastis.
Sehari setelah mencapai puncaknya, Harga Emas Antam Sepekan pada Selasa, 27 Januari 2026, justru lengser dari rekor tertinggi yang baru saja dicetak. Harga emas batal menembus angka Rp 3 juta per gram, menandakan adanya koreksi pasar.
Penurunan ini menunjukkan bahwa pasar emas sangat sensitif terhadap berbagai sentimen, termasuk potensi profit taking oleh investor. Meskipun demikian, harga masih berada di level yang cukup tinggi, menarik perhatian banyak pihak.
Setelah sempat merosot, Harga Emas Antam Sepekan kembali menunjukkan kekuatannya pada Rabu, 28 Januari 2026, dengan mencetak rekor termahal lagi. Ini menandakan pemulihan cepat dan minat yang berkelanjutan dari investor.
Kenaikan ini mengindikasikan bahwa koreksi sebelumnya hanyalah sementara. Pasar emas tetap menjadi pilihan menarik di tengah ketidakpastian global, mendorong harga untuk terus merangkak naik.
Puncak pergerakan Harga Emas Antam Sepekan terjadi pada Kamis, 29 Januari 2026, ketika harga emas Antam berhasil mencetak rekor baru, menyentuh angka fantastis Rp 3,1 juta per gram. Ini merupakan pencapaian tertinggi dalam periode tersebut.
Kenaikan signifikan ini menunjukkan kekuatan pasar emas yang luar biasa, didorong oleh berbagai faktor ekonomi dan geopolitik. Investor yang memegang emas pada saat ini tentu merasakan keuntungan yang besar.
Setelah mencapai puncaknya, Harga Emas Antam Sepekan pada Jumat, 30 Januari 2026, mulai lengser dari rekor termahalnya. Penurunan ini mengindikasikan adanya aksi ambil untung oleh investor setelah kenaikan signifikan.
Meskipun terjadi penurunan, harga emas masih berada di level yang tinggi, menunjukkan bahwa sentimen positif terhadap logam mulia masih cukup kuat. Investor perlu cermat dalam membaca sinyal pasar.
Penghujung pekan membawa kejutan besar bagi Harga Emas Antam Sepekan, di mana pada Sabtu, 31 Januari 2026, harga emas Antam anjlok parah. Harga bahkan lengser dari level Rp 3 juta, menandakan koreksi yang signifikan.
Penurunan drastis ini bisa jadi disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk perubahan sentimen pasar global atau penguatan mata uang tertentu. Investor perlu berhati-hati dan mempertimbangkan strategi jangka panjang.***



